Arulin Yuuk - Para wisatawan yang berkunjung ke Alas Purwo akan disambut sebuah pesan bijak, "Alam itu pasrah kepadamu" yang tertulis disebuah papan. Pesan singkat ini tentu sebagai 'reminder' kepada umat manusia bahwa kelestarian dan kerusakan alam sangat tergantung dari perbuatan manusia sendiri terhadap alam. Alas Purwo merupakan salah satu hutan tropis di Pulau Jawa yang masih Natural.
Alas Purwo memiliki Padang Rumput (Savana) yang luasnya mencapai 80 Ha di sektor Sadengan. Padang Rumput ini menjadi sumber makanan dan tempat hidup berbagai binatang. Banteng (bos javanicus), Babi Hutan (sus scrofa), Rusa (cervus timorensis), Kijang (muntiacus muntjak), Ajag (cuon alpinus), Macan Tutul (panthera pardus) adalah sebagian dari satwa liar yang, jika beruntung, bisa disaksikan wisatawan. Tentu menjadi pengalaman menarik dan langka jika kita beruntung menyaksikan perilaku satwa-satwa liar itu hidup di habitatnya secara langsung.
Agar kita tidak terlewat moment penting dalam memperhatikan satwa, maka sebaiknya wisatawan membekali perlengkapan wisata dengan kamera dan Teropong. Pada sore hari di Sadengan, bisa jadi wisatawan beruntung menyaksikan hewan-hewan tersebut sedang mengais makanan di padang rumput. Dari pos pemantauan satwa yang berbentuk gubuk dengan tiga lantai, wisatawan bisa melihat secara langsung satwa liar dari ketinggian.
Ada sebuah mitos yang sangat diyakini oleh masyarakat, jika ada yang berani merusak Alas Purwo maka dia akan mendapatkan bala dikemudian hari. Karena itulah, di gerbang masuk sektor Rowo Bendo tertulis ”Jangan Tinggalkan Apapun kecuali Telapak Kaki dan Jangan Mengambil Apapun kecuali Foto”
Di sektor timur ini terdapat beberapa goa diantaranya yaitu Goa Istana, Macan, Sendang Srengenge, Padepokan, dan Putri. Keberadaan Goa ini banyak digunakan para pencari ilmu (laku) untuk mendalami ilmu-ilmu spiritual dan kedigdayaan. Tanaman bambu mendominasi sektor ini dengan luas mencapai 40% dari total luas hutan. Sementara itu, di sektor barat yang dekat pantai, banyak terdapat hutan bakau terutama di segoro anakan.
Alas Purwo dapat kita capai dalam waktu 1 jam perjalan dari Kota Banyuwangi Jawa Timur. Sepanjang perjalanan dari Banyuwangi ke Kecamatan Tegaldlimo akan melalui hutan buatan yang menjadi zona penyangga Taman Nasional Alas Purwo. Setelah membayar tiket masuk yang harganya sangat terjangkau, 1 km pertama ke arah Timur wisatawan dapat melihat bangunan yang digunakan umat Hindu melakukan upacara Pagerwesi (upacara keagamaan umat hindu yang dilakukan periodik setiap 210 hari).
Monyet berhidung panjang atau dikenal sebagai bekantan adalah primata unik Kalimantan. Hewan tersebut merupakan penghuni asli hutan Borneo dan salah satunya dapat Anda temui di Cagar Alam Pulau Kaget, Kecamatan Tabunganen, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Pulau Kaget berada dekat dengan Banjarmasin, Ibu Kota Kalimantan Selatan. Pulau Kaget bisa ditempuh dengan speed boat selama lima belas menit. Bisa juga memilih transportasi lain yaitu “klotok” kapal kayu tradisional. Perjalanan menggunakan klotok memakan waktu sekira satu jam setengah.
Sekelompok kera berbulu keemasan dengan hidung panjang merah muda dan perut buncit sekelebat melompat dari satu dahan ke dahan yang lain di pohon yang tinggi. Hewan ini berbunyi nyaring dan cukup untuk membuat burung-burung berterbangan. Dari sekian banyak sensasi menyambangi hutan lebat Kalimantan maka bekantan adalah hewan yang akan membuat Anda terkagum. Temukan mereka di habitat aslinya seperti di Pulau Kaget.
Cagar Alam Pulau Kaget berada di dekat muara Sugai Barito yang mengalir melalui kota Banjarmasin. Pulau Kaget sendiri adalah pulau berbentuk delta yang dibentuk dari endapan lumpur yang timbul dari dasar sungai. Tanah subur pulau tersebut menyediakan mineral bagi berbagai vegetasi yang membentuk hutan lebat dan menjadi menjadi habitat beragam satwa liar nan unik.
Tidak ada data resmi yang menceritakan mengapa pulau ini dinamakan sebagai Pulau Kaget. Akan tetapi, argumentasinya diambil dari sensai mengagetkan ketika memasuki pulau tersebut karena disambut oleh suara riuh ratusan bekantan di atas pepohonan lebat. Pulau yang memiliki luas sekira 85 hektar itu dibentuk sebagai cagar alam pada 1976 menyusul penegasan dari Kementerian Kehutanan.
Bekantan (monyet berhidung panjang)
Bekantan merupakan satwa yang dilindungi di tempat ini sekaligus menjadi daya tarik utamanya. Itu karena monyet jenis ini hanya bisa ditemukan di Pulau Kalimantan saja. Memiliki nama latin Nasalislarvatus, masyarakat lokal menamakannya sebagai bekantan atau Kera Belanda karena memiliki hidung merah besar dan panjang serta perut buncit. Bekantan dikenal sebagai salah satu spesies monyet terbesar asli Asia.
Dalam daftar Appendix I CITES, bekatan dianggap sebagai primata yang hampir punah. Total jumlah Bekantan saat ini telah menurun lebih dari 50% dalam kurun waktu 36 sampai 40 tahun hingga 2008. Penurunan jumlah ini diakibatkan perburuan yang sedang berlangsung di beberapa daerah. Sejak tahun 1990, monyet Bekantan telah ditetapkan sebagai ikon Provinsi Kalimantan Selatan. Bekantan juga menjadi maskot dan ikon dari sebuah taman rekreasi terbesar di Indonesia yaitu Taman Impian Jaya Ancol
Selain di Cagar Alam Pulau Kaget, bekantan juga bisa ditemui di berbagai taman nasional lainnya di Kalimantan seperti di Taman Nasional Danau Sentarum, Taman Nasional Gunung Palung, Taman Nasional Kutai, Mondor, Taman Nasional Tanjung Puting dan juga sepanjang aliran Sungai Wain yang terletak di dekat Balikpapan, Kalimantan Timur.
Selain Bekantan, cagar alam ini juga menjadi rumah bagi kera ekor panjang (Macaca fascicularis), lutung (Presbitis cristata), dan berbagai jenis burung termasuk juga parkit (Psittacula alexandri), elang bondol (Haliadus indus), kingfisher (Halcyon choris), elang laut (Inchthyophaga inchtyootus), sertamasih banyak yang lainnya. Di sini juga menjadirumah bagi vegetasi penting yaitu mangrove, rambai, nipah, bakung, api-api, pandan, dan jeruju.
Wisata Seru Indonesia - Penangkaran Buaya ini terletak di Kelurahan Teritip dengan luas areal 5 ha. Jumlah buaya yang ada di penangkaran ini berjumlah 3.000 ekor yang terdiri dari tiga macam jenis, yaitu Buaya Muara, Buaya Supit dan Buaya Air Tawar. Tempat ini terbuka untuk umum setiap hari dari pukul 08.00 – 17.00. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua atau empat, juga dengan kendaraan umum yaitu angkutan kota No. 7 dengan jarak 27 km dari pusat kota Balikpapan.
Letaknya tak jauh dari Pantai Manggar, yang merupakan salah satu obyek wisata favorit di Balikpapan. Lokasi penangkaran tersebut berada di Jl Mulawarman No 66, Desa Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur. Penangkaran Buaya Teritip hanya berjarak sekitar 28 kilometer dari pusat kota Balikpapan.
Penangkaran Buaya Teritip merupakan penangkaran buaya yang memiliki jumlah buaya paling banyak di Kalimantan Timur. Saat ini terdapat lebih dari 1.450 ekor buaya yang ditangkar, terdiri dari buaya muara (Crocodylus porosus) yang paling dominan dan dua jenis buaya langka, yaitu buaya air tawar (Crocodylus siamensis) dan buaya supit (Tomistoma segellly). Ribuan buaya ini ditangkar dalam puluhan kandang di areal seluas 5 hektar.
Kandang buaya dibagi atas 4 kategori, yaitu kategori anakan, penggemukan, remaja dan induk. Penangkaran ini dikelola oleh pihak swasta yaitu CV. Surya Raya sejak tahun 1993. Setiap pengunjung dikenakan biaya Rp.15.000 per orang, dan bisa dikunjungi setiap hari, Senin-Minggu pukul 08.00-17.00 WITA
Selama ini buaya dikenal sebagai hewan yang liar, buas, dan berbahaya. Di Penangkaran Buaya Teritip, pengunjung bisa melihat secara dekat gerak-gerik hewan amfibi tersebut. Pengunjung dapat langsung memberikan makan berupa ikan dan ayam hidup kepada buaya yang ditangkar. Saat buaya-buaya berebut makanan, menjadi hal yang menarik perhatian pengunjung. Kalau jadwal pemberian makan buaya hanya dua kali dalam seminggu. Tapi, pengunjung bisa membeli satu ekor ayam seharga Rp 10.000 dan langsung memberikan makan kepada buaya-buaya yang ditangkar.
Selain melihat proses pemberian makan buaya, pengunjung juga bisa menikmati wisata satwa lainnya, yaitu menunggang dua gajah Lampung yang ada di kompleks penangkaran buaya. Sebagai suvenir, bisa diperoleh berbagai cinderamata berbentuk buaya.
Tak ada sunset semenarik di Labuan Bajo. Pulau-pulau kecil berbukit dan perahu yang hilir mudik dengan latar belakang matahari merah bundar yang berpendar menjadi pemandangan alam yang sungguh dramatis. Labuan Bajo, pelabuhan kecil di ujung barat Flores ini, telah lama difungsikan sebagai pintu masuk menuju Pulau Komodo.
Komodo
Saat pagi, tiap mentari mulai meninggi, aktivitas Labuan Bajo bergeliat kembali. Pelabuhan kecil ini tak pernah sepi dari aktivitas wisatawan yang ingin menjelajahi eksotika Pulau Komodo. Setelah ditetapkannya kawasan Indonesia Timur sebagai tujuan utama pariwisata Indonesia, kehidupan sekitar Labuan Bajo makin bergeliat.
Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Nusa Tenggara. Pulau Komodo dikenal sebagai habitat asli hewan komodo. Pulau ini juga merupakan kawasan Taman Nasional Komodo yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Pulau Komodo berada di sebelah timur Pulau Sumbawa, yang dipisahkan oleh Selat Sape. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pulau Komodo merupakan ujung paling barat Provinsi Nusa Tenggara Timur, berbatasan dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Dibangunnya berbagai infrastruktur dan fasilitas penunjang wisata membuat kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo semakin meningkat dari tahun ke tahun. Data Taman Nasional Pulau Komodo menunjukkan hingga akhir Oktober 2013 total kunjungan ke Pulau Komodo mencapai 53.739 orang, yang sebagian besar berasal dari Australia, Amerika, dan Prancis.
Untuk sampai ke Pulau Komodo dari dermaga Labuan Bajo menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan speed boat. Waktu tempuh ini akan lebih lama jika menggunakan perahu biasa.
“Wisatawan yang ingin ke Pulau Komodo biasanya disatupaketkan dengan kunjungan ke Pink Beach dan Pulau Rinca, tetapi ada juga yang mampir ke Pulau Padar,” ucap Gonzales, pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia chapter Flores.
Saat tiba di Pulau Komodo, ranger langsung menjelaskan secara umum gambaran pulau tersebut. Ada empat jenis tracking yang bisa dipilih wisatawan, yaitu adventure, long track, medium track, dan short track. Jacky, salah seorang ranger Taman Nasional Komodo, mengungkapkan, “Panjang track adventure itu 8 km, dapat ditempuh selama 4-5 jam. Sedangkan untuk long track panjangnya 4 km selama 2 jam, medium track 2 km selama 1 jam, dan short track hanya 1 km, tidak lebih dari setengah jam perjalanan.”
Sebelum petualangan menjelajahi Pulau Komodo dimulai, Jacky mewanti-wanti kepada para wisatawan tentang perihal yang tidak boleh dilakukan selama trekking. “Ada peraturan Taman Nasional Komodo yang harus dipatuhi, yaitu jangan berpisah dari kelompoknya, satu kelompok terdiri dari 10 orang. Jangan buang sampah sembarangan dan kalau melihat komodo jangan coba-coba untuk menyentuhnya. Agar memudahkan pemandu, rombongan jangan terpecah. Jalannya yang lambat mohon dipercepat dan yang cepat mohon diperlambat,” tutur Jacky.
Pulau Komodo telah diakui sebagai salah satu situs Warisan Dunia UNESCO. Pulau ini memiliki luas lebih dari 3.000 hektar dan menjadi habitat asli bagi 2.919 komodo. Menurut penuturan Jacky, perkembangbiakan komodo stabil dari tahun ke tahun dan jumlahnya meningkat meski ia tak tahu angka pastinya.
Sambil mengiringi wisatawan menjelajahi Pulau Komodo, Jacky juga menjelaskan cara komodo bertahan hidup cukup unik. Komodo suka berkamuflase dengan cara berdiam di tanah. Saat rusa melintas, komodo langsung menerkam rusa di bagian kakinya.
“Yang bermain dari gigitan komodo itu bakterinya. Dia punya bakteri yang beracun dan mematikan,” ucap Jacky.
Uniknya komodo akan makan bersama ketika berhasil mendapatkan daging buruan. Uniknya lagi komodo betina-lah yang biasanya berburu rusa, komodo jantan hanya menunggu saja. Waktu berburu komodo, menurut Jacky, sekitar pukul 6 hingga pukul 10 pagi.
“Takaran untuk satu ekor komodo dewasa itu sekitar 50 kg daging, jadi satu pas-nya itu dimakan oleh satu komodo dewasa, tapi mereka tetap makan bersama,” tutur Jacky menambahkan.
Sulphurea Hill
Tak hanya puas melihat tingkah laku komodo yang menyeramkan, pulau yang telah diakui sebagai situs Warisan Dunia UNESCO ini juga menawarkan panorama keindahan alam yang memukau. Sulphurea Hill salah satunya. Sulphurea Hill adalah sebuah bukit di Pulau Komodo yang menjadi habitat asli burung Kakaktua. Bukit dengan pemandangan indah ini namanya diambil dari nama latin burung kakaktua. Hal tersebut bukan tanpa sebab. Pasalnya di kawasan perbukitan ini sebelum pagi banyak dijumpai burung kakaktua bertengger.
Pink Beach
Pulau Komodo juga menyimpan keindahan Pink Beach yang menawan. Pink Beach menjadi salah satu pantai langka di dunia lantaran pasir pantainya yang berwarna merah muda. Warna pasir pantai yang unik tersebut bersumber dari batuan koral yang hancur di lautan. Namun versi lain mengatakan pasir merah muda ini berasal dari hewan mikroskopik bernama firaminifera.
Sejarah Pulau Komodo
Pada tahun 1910 orang Belanda menamai pulau di sisi selatan Provinsi Nusa Tenggara Timur ini dengan julukan Pulau Komodo. Pesona Indonesia Cerita ini berawal dari Letnan Steyn van Hens Broek yang mencoba membuktikan laporan pasukan Belanda tentang adanya hewan besar menyerupai naga di pulau tersebut. Steyn lantas membunuh seekor komodo tersebut dan membawa dokumentasinya ke Museum and Botanical Garden di Bogor untuk diteliti.
Tahun 2009, Taman Nasional Komodo dinobatkan menjadi finalis “New Seven Wonders of Nature” yang baru diumumkan pada tahun 2010 melalui voting secara online di www.N7W.com.Pada tanggal 11 November 2011, New 7 Wonders telah mengumumkan pemenang sementara, dan Taman Nasional Komodo masuk kedalam jajaran pemenang tersebut bersama dengan, Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain.
Bukan hanya di Pulau Komodo, habitat komodo juga ada di pulau yang berdekatan dengannya. Seperti di Pulau Rinca. Di pulau tersebut, wisatawan bisa leluasa melihat dan mengamati pola keseharian komodo. Terdapat tempat yang tepat untuk melihat kawanan komodo.Tak cukup waktu seharian untuk menjelajahi Pulau Komodo, mengingat pulau ini menyimpan beragam kekayaan keindahan alam yang memukau. Keberagaman keindahan alam yang perlu dijaga dan dilestarikan, sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia-Nya.